Pada umumnya, penulisan sejarah Usman bin Affan, sahabat dan suami dari dua putri Nabi Muhammad SAW dilukiskan sangat negatif. Ia dituduh sebagai pemimpin yang korup, suka menghamburkan harta untuk kesenangan pribadi dan kerabat, nepotis, dan menggunakan kekuasaan di luar haknya. Kebaikannya dalam menjalankan tugas sebagai Khalifah, sebanding dengan kekurannya. Kelemahan dan kebijakannya selama ia menjadi khalifah pada separoh kedua masa kekhalifahannya, memicu adanya pemberontakan dan unjuk rasa yang menyebabkannya terbunuh, dan pada gilirannya peristiwa semua itu menyebabkan lemahnya negara Madinah. Demikianlah gambaran Usman bin Affan dalam sejarah Islam. Pencintraan negatif ini seolah-olah menjadi fakta sejarah yang benar dan tidak terbantahkan, akibatnya adalah bahwa pembaca sejarah Islam, baik itu dari kalangan mahasiswa atau lainnya akan mempunyai persepsi yang sama.
Gambaran negatif tentang diri Usman dalam banyak tulisan sejarah Islam, pada gilirannya menimbulkan banyak pertanyaan; Apakah betul Usman bin Affan adalah seorang koruptor dan suka menghamburkan harta untuk kesenangan pribadi dan keluarga, bukankan dia adalah orang yang kaya raya sejak sebelum masuk Islam dan bahkan sangat suka menyumbangkan hartanya untuk Islam?. Apakah betul dia seorang nepotis, bukankan ada Khalifah lain yang melakukan hal serupa, tapi mengapa ia tidak di-cap sebagai nepotis?. Apakah ia adalah orang yang tidak amanah, sehingga kekuasaan yang ia pegang ia gunakan di luar haknya?., dan Apakah betul dia adalah orang yang sangat lemah dan penyebab kehancuran negara Madinah?., Pertanyaan lantas berkembang semakin dalam, apakah orang yang dijamin masuk sorga oleh Nabi itu adalah orang yang demikian buruk?, dan pertanyaan selanjutnya semakin sulit dijawab, mengapa Nabi Muhammad SAW mengambil menantu dia, bahkan memberikan dua anak perempuannya untuk dinikahinya, kalau dia begitu adanya, bukankan masih banyak sahabat Nabi yang lebih baik darinya?”, dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang tidak kalah menggelitiknya. Pertanyaan kritis terhadap sejarah Islam klasik sangatlah penting, sebab sangat mungkin para pengkisah dan penulis sejarah Islam awal terkooptasi penguasa sehingga penulis sejarah berusaha menulis sejarah sejalan dengan kemauan penguasa, atau karena metodologinya yang memang tidak pas, sehingga tulisan sejarah Islam tersaji sebagai mana yang didapat dari sumber sejarah. Hal ini tidak mustahil, sebab penulisan sejarah kebanyakan ditulis pada masa Bani Abbasiyah, golongan yang mempunyai sejarah persaingan dan permusuhan dengan Bani Umayyah sejak lama, bahkan sejak masa jahiliyah, di mana Usman bin Affan berada pada pihak Bani Umayyah, golongan yang bertentangan dengan Bani Abbasiyah tersebut.
RIWAYAT HIDUP
Utsman bin
Affan adalah Khalifah ketiga setelah Abu bakar al- Shiddiq dan Umar bin
Khattab. Nama lengkapnya adalah Usman bin Affan bin Abil Ash bin Umayyah bin
Abd. Al-Syam bin Abd. Al-Manaf. Ia lahir di kota Mekah pada tahun keenam dari
tahun gajah, atau pada tahun 576 M (kira-kira lima tahun setelah Nabi Muhammad
SAW. Lahir). Nama lengkap Usman bin Affan
adalah Usman bin Affan bin Abi al-‘Ash bin Umayyah bin Abdus Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu;ay bin Ghalib, Al-Quraisyiy Al-Umawi Al-Makki Al-Madani, Abu ‘Amr. Nasabnya dari keturunan Umayyah salah satu pembesar
Quraish . Bapaknya bernama Affan dan
ibunya bernama Arwa binti Kuriz bin rabi’ah habib bin abd al syam bin al
manaf. Nasab beliau bertemu dengan Rasulullah Sallallahu
‘Alaihi Wasallam pada kakek ke lima yaitu Abdul Manaf dari jalur ayahnya.
Beliau menisbatkan dirinya kepada bani Umayyah, salah satu kabilah Quraisy.
Begitu mulyanya Usman Bin Affan dimata Rasul saw. Beliau pernah bersabda: setiap Nabi mempunyai teman karib di dalam surga dan teman karib saya di alam surga adalah Usman Bin Affan. Berdasarkan golongan Bani Umayyah, Usman bin Affan termasuk orang pertama yang memeluk Islam. Ia memeluk agama Islam sejak awal risalah dan misi Nabi disiarkan, atas ajakan Abu bakar al-Shiddiq. Ia masuk dalam kelompok sahabat al-Sabiqun al-Awwalun, yakni kelompok yang mulai pertama memperkenalkan Islam. Termasuk dalam kelompok ini adalah Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidillah, Sa‟ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam dan Said bin Harisah. Mreka ini adalah sahabat – sahabat yang dijamin oleh Rasulullah saw. Masuk syurga.
Dan karena kebaikan akhlak dan mu’amalahnya, beliau dicintai oleh Quraisy, Nama panggilannya Abu Abdullah dan diberi gelar Dzunnurrain (yang mempunyai dua cahaya). Sebab digelari Dzunnuraian karena beliau menikahi dua putri rasulullah yaitu: Ruqqoyah dan Ummu Kultsum. Ketika Ummu Kultsum wafat, Rasulullah berkata ; Sekiranya kami punya anak perempuan yang ketiga, niscaya aku nikahkan denganmu. Dari pernikahannya dengan Ruqoyyah lahirlah anak laki-laki. Tapi tidak sampai besar anaknya meninggal ketika berumur 6 tahun pada tahun 4 Hijriah. Beliau wafat pada tahun 35 Hijriah berumur 82 tahun. Menjabat sebagai khalifah ketiga selama 12 tahun. Khalifah Usman Bin Affan mempunyai 9 anak laki-laki yaitu Abdullah al-Akbar, Abdullah al-Ashgar, Amru, Umar, Kholid, al-Walid, Uban, Said dan Abdul Muluk dan 6 anak perempuan.
PEMERINTAHAN MASA USMAN BIN AFFAN
Pendaratan Romawi di Iskandariah itu jatuh pada bulan-bulan pertama tahun 25 H (664 M), yakni selang setahun dan beberapa bulan sesudah pelantikan Usman. Hampir semua sumber sepakat tentang tahun ini. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa terbunuhnya Umar telah membuat kota Konstantinopel berani cepat-cepat menyambut permintaan penduduk Romawi di Iskandariah itu, dengan perkiraan bahwa dengan kematian Umar, kaum muslimin sudah kehilangan sang guru dan menamatkan era pembebasan yang pada masanya telah membuat Romawi dan Persia mati akal.
Pasukan Romawi sedang menjelajah seluruh Mesir Hilir tanpa menemui perlawanan. Kendati begitu mereka tidak membiarkan orang-orang Mesir hidup damai. Kebalikannya, segala yang ada pada mereka dirampas paksa dan mereka diperlakukan dengan penghinaan yang sangat keji. Pada itu Amr bin Ash sedang mengatur pasukan dan persiapan perangnya di Babilon. Setelah diketahui bahwa pasukan Romawi sudah mendekati Naqyus ia keluar dan sudah siap hendak menghadang mereka. Ia memimpin pasukan 15.000 orang dengan kepercayaan bahwa jika mereka tak dapat mengalahkan pasukan Romawi mereka akan terpukul mundur kembali ke Semenanjung Arab dengan membawa malu yang tercoreng di kening karena lari. Tercatat dalam sejarah bahwa Amr bin Ash menang dan mampu membebaskan Mesir, dengan begitu Amr telah membebaskan kembali Iskandariah, dan selesailah sudah pengusiran pasukan Romawi dari mesir untuk kedua kalinya. Antara kedatangan mereka ke Iskandariah sampai kaburnya mereka dari kota itu, sekali ini hanya selang beberapa bulan. Dalam waktu yang begitu singkat Amr telah mampu mencapai tujuannya. Dengan kembalinya muslimin dan pemerintahannya itu, sekali lagi rakyat Mesir merasa lega. Sekarang mereka merasa senang dan tentram sekali setelah sebelum itu mereka melihat pihak Romawi menjarah harta mereka. Sebaliknya sekarang, yang mereka lihat justru pasukan Muslimin mengembalikan harta mereka yang dirampas itu kepada mereka, setelah berhasil merampas kembali harta itu dari pasukan Romawi.
Daerah front Timur, Usman dapat kembali menguasai wilayah Kabul, Gaznah, balk, dan Turkistan bagian timur, selanjutnya sebagian wilayah Hurasan seperti Naisabur, Tus dan Marw, didaerah Utara Muawiyah bin Abi sufyan, gubernur Syria menaklukkan Asia kecil sampai Emmrebut Pualu Cyprus. Wilayah front Barat Abdullah bin Sa’ad, Gubernur Mesir menerobos ke Tripoli dan menaklukkan sebahagian Afrika utara kota cartago terpaksa membayar upeti kepada khalifah umat islam di Madinah.
Akhir masa jabatannya, Umar bin Khattab menangkap sinyalsinyal tentang akan bangkitnya kembali semangat ashabiyah di kalangan umat Islam. Sungguh pun revolusi Islam telah berhasil mengubur sifat ashabiyah bangsa Arab muslim, namun tidak sampai menghilangkannya secara tuntas. Umar bin Khattab berpendapat bahwa dengan bangkitnya kembali perasaan ashabiyah di kalangan umat Islam akan menimbulkan fitnah dan kekacauan. Oleh karena itu ketika sahabat Abdullah bin Abbas menyebut-nyebut nama Usman bin Affan dan menyarankan agar ia ditunjuk sebagai penggantinya, Umar bin Khattab berkata : “ Demi allah, sekiranya aku menunjuk Usman bin Affan sebagai pengganti, niscaya ia akan menjadikan kaumnya, bani Muith, sebagai penguasa - penguasa zalim atas rakyat dan akan bertindak melakukan apa yang aku khwatirkan. Persoalan akan timbulnya ashabiyah kesukuan di kalangan masyarakat Muslim menghantui terus pemikiran Umar bin Khattab, sehingga pada saat-saat menjelang wafatnya, ia mengundang Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan dan Sa‟ad bin Abi Waqqas dan berkata kepada mereka secara terpisah: „ Bertaqwalah kepada Allah dan jangan mengangkat kepada kaummu sebagai pejabat-pejabat yang berkuasa secara sewenang-wenang atas rakyat.
Setahun seteah Usman bin Affan menduduki
jabatan kekhalifaan, ia mulai mengadakan penggantian personalia atas jabatan
gubernur di daerah-daerah. Gubernur-gubernur yang telah diangkat oleh Umar bin
Khattab, ia ganti dengan gubernur baru, yang oleh para penulis sejarah disebut
sebagai Umayyanisasi pejabat. Sebagai contoh, Sa‟ad bin Abi Waqqas, guberbur di
Kufah diberhentikan dari jabatannya. Sebagai gantinya, Usman mengangkat pejabat
baru, Walid bin Uqbah (Saudara seibu dengan Usman bin Affa). Selanjutnya, Abu
Musa al- Asy‟ari yang pada waktu itu menjabat sebagai guberbur di Bashrah, juga
diberhentikan dari jabatannya. Sebagai gantinya, Usman bin Affan mengangkat
Putra pamannya, Abdullah bin Ameer. Selanjutnya Usman bin Affan mengangkat
Saudara sepupunya, Marwan bin makam sebagai sekertaris negara.
Tindakan pemberian kekuasaan kepada kaum kerabat seperti yang dilakukan oleh Usman bin Affan belum pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw. Hingga masa Umar bin Khattab berakhir. Oleh karena tindakan Usman bin Affan memberikan kesempatan kepada kerabatnya seperti telah disebutkan di atas sehingga menciptakan lahan yang cukup subur bagi munculnya kembali sifat ashabiyah (nepotisme) dikalangan bangsa Arab Muslim. Mengomentari kebijakan Usman yang bersifat nepotis tersebut, Muhammad Abu Zahrah, salah seorang dari guru besar pada Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir, mengatakan bahwa politik nepois Usman bin Affan tersebut sesungguhnya tidak tercelah, sungguh pun demikian, ia tetap menyayangkan bahwa diantara gubernur yang diangkat Usman bin Affan tersebut, di samping itu, Abu Zhahrah juga menyayangkan tindakan Usman bin Affan yang kurang berkonsultasi dengan sahabat- sahabat utama sebelum mengambil kebijakan baru, suatu hal yang sangat lumrah dilakukan oleh dua pendahulunya , Abu Bakar Siddiq dan Umar bin Khattab.
BERAKHIRNYA MASA USMAN BIN AFFAN
Sesungguhnya keresahan masyarakat sudah mulai tampak sejak paru kedua dari masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan. Tepatnya setelah Khalifah sudah mulai terpengaruh oleh kaum kerabatnya dalam pengambilan keputusan. Awal kebijakan yang menghebohkan adalah penggantian hampir semua gubernur yang dianggkat oleh Khalifah umar bin Khattab. Para pejabat baru yang ditunjuk ternyata masih kerabatnya sendiri. Ironisnya, mereka memiliki sifat-sifat yang tidak baik dan bertindak secara sewenang-wenang. Kegelisahan rakyat semakin memuncak ketika Marwan bin Hakam, salah seorang kerabat Usman, semakin tampak berperan dalam pengambilan keputusan. Campur tangan sangat menonjol dalam pemerintahan. Berbagai masalah politik yang dilaksanakan pada masa itu ternyata merupakan ide yang muncul darinya. Dari banyak kebijakan itu merupakan tindakan yang sewenang-wenag demi keuntungan kerabatnya sendiri . Beberapa sahabat terkemuka, seperti Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhan bin Ubaidillah, berusaha memperingatkan Usman bin Affan. Namun karena pengaruh keluarga sudah mendalam, maka usaha mereka tidak menghasilkan hal yang diinginkan. Khalifah tetap dalam kebijakan dengan kurang memperhatikan sarana atau nasehat dari para pemuka Islam tersebut. Akhirnya para tokoh dari kaum muslimin itu menjauh dan tidak mau melibatkan diri pada masalah politik. Suasana politik yang memanas ini dimanfaatkan baik oleh Abdullah bin Saba‟. Ibnu Sauda‟ dengan gencarnya menghasut masyarakat dengan ajaran tentang wisayah yang menonjolkan Ali bin Abi Thalib.
Seterusnya penduduk setempat banyak yang termakan
hasutan Abdullah bin Saba’. Sebagai akibatnya, datanglah sejumlah besar
(ribuan) penduduk daerah ke Madinah yang menuntut kepada Khalifah Utsman,
tuntutan dari banyak daerah ini tidak dikabulkan oleh khalifah, kecuali
tuntutan dari Mesir, yaitu agar Utsman memecat Gubernur Mesir, Abdullah bin Abi
Sarah, dan menggantinya dengan Muhammad bin Abi Bakar Karena tuntutan orang
mesir itu telah dikabulkan oleh khalifah, maka mereka kembali ke Mesir, tetapi sebelum mereka kembali ke mesir, mereka bertemu dengan
seseorang yang ternyata diketahui membawa surat yang mengatasnamakan Utsman bin
Affan. Isinya adalah perintah agar Gubernur Mesir yang lama yaitu Abdulah bin
Abi sarah membunuh Gubernur Muhammad Abi Bakar (Gubernur baru) Karena itu,
mereka kembali lagi ke madinah untuk meminta tekad akan membunuh Khalifah
karena merasa dipermainkan. Setelah surat diperiksa, terungkap bahwa yang
membuat surat itu adalah Marwan bin Hakam. Tetapi mereka melakukan pengepungan
terhadap khalifah dan menuntut dua hal :
1. Supaya Marwan bin Hakam di qishas (hukuman bunuh
karena membunuh orang).
2. Supaya Khalifah Utsman meletakan jabatan sebagai Khalifah.
Khalifah Usman bin Affan Tidak mengabulkan permohonannya dengan alasan karena Marwan baru berencana membunuh dan belum benar-benar membunuh. Sedangkan tuntutan kedua, beliau berpegang pada pesan Rasullulah SAW.; “Bahwasanya engkau Utsman akan mengenakan baju kebesaran. Apabila engkau telah mengenakan baju itu, janganlah engkau lepaskan”. Setelah mengetahui bahwa khalifah Utsman tidak mau mengabulkan tuntutan mereka, maka mereka melanjutkan pengepungan atas beliau sampai empat puluh hari. Ketika Utsman Radhiyallahu ‘anhu melihat bahwa ajakan untuk berdamai dengan mereka tidak berhasil, bahkan pengepungan mereka terhadapnya semakin menjadi-jadi, beliaupun bermusyawarah dengan Abdullah bin Salam. Abdullah bin Salam pun memberikan isyarat agar beliau menahan diri dari memerangi mereka, agar hal tersebut semakin bisa menjadi hujjah bagi beliau di sisi Allah kelak. Abdullah bin Salam berkata kepada beliau : “Tahan dan tahanlah, karena hal itu akan menjadi hujjah bagimu“.
Atas nasehat dan pengaruh pada pemuka Islam tersebut para pembanggkang itu dapat di dinginkan dan bersedia kembali setelah khalifah bersediah menemui tuntutan mereka. Segera sesudah keinginanya dikabulkan mereka bergerak pulang didaerah masingmasing. Namun ditengah jalan mereka menanggkap seorang kurir. Yang membawa surat untuk gubernur Mesir yang isinyah adalah perintah untuk membunuh para perusuh jika mereka telah sampai. Mereka segera kembali ke Madinah dan mengepung rumah Usman. Tuntunan yang dilakukan adalah agar khalifah manjelaskan penulisan surat tersebut. Pengepungan ini berjalan selama tiga hari lamanya. Oleh karena permintaanya dikabulkan mereka segera menyerbu rumah kediaman Usman bin Affan pada waktu subuh. Ketika penyerbuan ini dilaksanakan Usman sedang membaca alQuran setelah menunaikan salat subuh. Kaum pemberontak dengan tega memukul dan menyaret Usman dengan pedang sehingga ia terbunuh. Diantara para pembangkang yang terlibat dalam peristiwa ini adalah Muhammad bin Abu Bakar. Namun ia sendiri tidak sempat berbuat aniaya karena tersima akan perkataan khalifah yang mengingatkan ayahnya (Abu Bakar al- Siddiq). Ketika itu Usman berkata:”Arwah ayahmu menyaksikan apa yang handak kamu perbuat. Apa yang ia akan katakan seandainya engkau menganiayahku dengan tanganmu?” Mendengar ungkapan ini tangan Muhammad segera menjadi lemas. Kemudian ia lari keluar seraya menangis. Sejarah mencatat bahwa para pembelot beraksi secara brutal sambil menganiaya Khalifah. Sewaktu Sudab bin Hamran, salah seorang pemberontak yang ikut menyerbuh rumah Usman, maka Nailat, isteri Khalifah, menangkis dengan tangannya, sehingga jari-jari tangan itu terputus. Setelah itu beberapa pembelot melakukan penganiayaan terhadap Usman bin Affan, sehingga ia terbunuh dengan cara yang mengenaskan.
Usman bin Affan meninggal karena terbunuh pada 18 Zulhijjah 35 H/656 M. Pembunuhan ini dilakukan oleh para pemberontak yang berdatangan dari Mesir, Basrah dan Khufah. Peristiwa itu sendiri merupakan akibat dari ketidak puasan rakyat terhadap kebijakan yang dilakukan Usman selama ini. Usman bin Affan meninggal dalam usia 82 tahun setelah berkuasa selama 12 tahun. Pembunuhan ini merupakan bibit dari perpecahan dikalangan Islam yang terjadi pada masa berikutnya.
Komentar
Posting Komentar